Rabu, 05 November 2025

Hidup Itu Seperti Rubik



Pernahkah kamu memainkan rubik? Mainan yang tampak sederhana, tapi ternyata cukup rumit untuk disusun kembali setelah diputar.

Begitu pula hidup, kelihatannya biasa saja, tetapi ternyata banyak lika liku didalamnya. Seperti rubik, hidup menuntut kesabaran, sudut pandang yang tepat, dan keberanian untuk terus memutar arah, meski kadang terasa kita malah makin jauh dari tujuan.

Proses Itu Penting

Saat memainkan rubik, kita tidak bisa langsung menyusun semua sisi menjadi satu warna dalam satu putaran. Ada proses panjang yang harus dilalui: mencoba, mengamati, mengoreksi langkah, bahkan memutar balik jika arah kita salah.

Begitu pula dalam hidup. Kita tak bisa berharap semua hal langsung berjalan sempurna. Ada hal-hal yang harus kita pelajari dulu. Ada waktu-waktu di mana hidup terasa berantakan, namun itu bagian dari proses menyusun kebaikan.

Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Jadi, jika ingin hidup menjadi lebih baik, kitalah yang harus mulai berbenah.

Berbeda Tapi Bisa Selaras

Rubik terdiri dari berbagai warna. Awalnya semua warna itu bercampur tak beraturan. Tapi semakin kita memahami cara menyusunnya, semakin terlihat pola bahwa warna yang sama akan berkumpul di satu sisi. Jika kita ambil hikmahnya, Itu merupakan cerminan kehidupan.

Kita ini berbeda-beda. Baik karakter, latar belakang maupun pemikiran. Namun dalam sunnatullah (hukum alam yang ditetapkan Allah), orang-orang yang memiliki nilai dan tujuan hidup yang sama akan cenderung saling mendekat.

Karena itu, tak perlu sibuk mencari teman yang sempurna. Cukup fokus memperbaiki diri. Sebab ketika kita berubah menjadi lebih baik, Allah akan mendekatkan kita dengan orang-orang yang baik pula.

Nabi ﷺ bersabda:

"Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi bisa memberimu minyak wangi atau kamu bisa membeli darinya, atau kamu mencium bau harum darinya. Adapun pandai besi, bisa jadi ia membakar pakaianmu, atau kamu mencium bau tidak sedap darinya."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, berkumpullah dengan warna-warna yang baik, tapi sebelumnya, jadilah warna yang layak untuk dikumpulkan.

Kalau rubik saja bisa tersusun rapi dari kekacauan, mengapa hidup kita tidak?

Asalkan kita terus bersabar, terus berusaha, dan terus memperbaiki cara pandang, insyaAllah, perlahan demi perlahan, satu sisi kehidupan akan mulai tersusun. Lalu sisi yang lain menyusul. Sampai akhirnya, hidup kita menemukan keindahannya sendiri.

Jadi, jangan menyerah. Teruslah memutar arah. Karena pada akhirnya, setiap warna akan menemukan tempatnya.

Ketika yang Mampu Memilih Diam: Sebuah Catatan Tentang Kebijaksanaan

Terkadang… dalam perjalanan hidup, kita bertemu dengan orang-orang yang sebenarnya mampu. Kita tahu mereka punya kapasitas, kecerdasan, dan kepekaan yang luar biasa. Tapi anehnya, mereka tidak pernah menonjolkan diri. Tidak ikut bersuara keras, tidak berebut panggung, bahkan kadang memilih diam ketika peluang terbuka.

Rabu, 03 September 2025

Syafaat di Hari Kiamat: Ketika Orang Beriman Menolong Saudaranya dari Neraka

Bayangkan sebuah hari di mana seluruh manusia dikumpulkan. Hari yang penuh ketakutan, di mana setiap jiwa hanya memikirkan nasibnya sendiri. Itulah Hari Kiamat. Namun, di tengah suasana itu, ada sekelompok manusia yang justru memohon kepada Allah bukan untuk dirinya… melainkan untuk menyelamatkan saudara-saudaranya.

Inilah kisah yang Rasulullah ﷺ sampaikan, diriwayatkan oleh Imam Muslim. Sebuah kabar gembira sekaligus pengingat yang sangat mendalam bagi kita semua.

Syafaat yang Menggetarkan Hati

Rasulullah ﷺ bersumpah:
“Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada seorang pun di antara kalian yang akan lebih gigih memohon kepada Allah daripada orang-orang beriman pada hari itu, untuk menyelamatkan saudara-saudaranya dari neraka.”

Mereka berkata:
"Wahai Rabb kami, mereka dulu berpuasa bersama kami, shalat bersama kami, dan berhaji bersama kami."

Allah menjawab:
"Keluarkanlah dari neraka orang-orang yang kalian kenal."

Maka para mukmin mengeluarkan banyak orang. Ada yang tersiksa hingga betisnya, ada pula yang sampai lututnya. Api neraka tidak lagi membakar wajah mereka, karena Allah telah melindungi mereka dari siksaan itu.

Ketika para mukmin berkata bahwa semua yang diperintahkan sudah dikeluarkan, Allah memerintahkan lagi:
"Kembalilah, keluarkan siapa saja yang di dalam hatinya terdapat iman seberat satu dinar."

Mereka pun kembali mengeluarkan banyak orang, hingga akhirnya berkata:
"Ya Rabb kami, tidak ada lagi yang tersisa dari mereka yang Engkau perintahkan."
(HR. Muslim no. 183)


Pelajaran Berharga dari Kisah Ini

1. Persaudaraan Iman Tidak Pernah Pudar.
Persahabatan di dunia sering terhenti karena jarak, waktu, atau kematian. Namun persaudaraan karena iman akan tetap hidup sampai di akhirat. Bahkan, ketika semua orang sibuk memikirkan diri sendiri, mereka yang beriman masih berjuang demi saudaranya.

2. Amalan Bersama Menjadi Bukti.
Perhatikan alasan para mukmin memohon:  “Mereka dulu shalat bersama kami, puasa bersama kami, dan berhaji bersama kami.”
Amal yang dilakukan bersama-sama menjadi saksi di hadapan Allah. Ibadah berjamaah, hadir ke kajian, dan berkumpul dalam kebaikan adalah investasi ukhuwah hingga akhirat.

3. Rahmat Allah Melampaui Segalanya
Allah tidak hanya memerintahkan menyelamatkan mereka yang dikenal, tapi juga siapa saja yang masih memiliki iman walau seberat satu dinar. Dalam riwayat lain, bahkan seberat biji sawi. Ini bukti bahwa rahmat Allah mengalahkan murka-Nya.

 4. Pilih Teman yang Menarik ke Surga
Teman yang baik tidak hanya menemanimu di dunia, tapi juga berusaha menolongmu di akhirat. Maka, carilah sahabat yang mengingatkanmu pada shalat, puasa, dan amal shalih.

Mari kita bertanya pada diri sendiri:
Apakah aku sudah punya sahabat yang akan memohon untukku di hari kiamat nanti?
Apakah aku sendiri akan menjadi penolong bagi saudaraku kelak?
Ataukah aku justru menjadi orang yang dilupakan, karena lalai dan jauh dari ibadah?

Hari itu pasti datang. Dan di saat itu, tidak ada yang lebih berharga selain rahmat Allah dan doa tulus dari saudara seiman.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami sahabat-sahabat yang shalih, yang selalu mengingatkan kami kepada-Mu. Lindungi kami dari api neraka, dan pertemukan kami bersama orang-orang beriman di surga-Mu, tanpa hisab dan tanpa azab.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Kamis, 14 Agustus 2025

Menyibukkan Diri Dengan Kebaikan

Salah satu penyakit hati yang sering tidak kita sadari adalah terlalu sibuk melihat kekurangan orang lain,
sementara kekurangan kita sendiri terabaikan. Padahal, setiap waktu yang kita habiskan untuk mencela
atau menggunjing orang lain adalah waktu yang seharusnya bisa kita gunakan untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah.
Imam Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata: “Perbaikilah aibmu. Setiap kali engkau memperbaiki satu aib, akan tampak aib lainnya yang harus engkau perbaiki. Maka engkau akan sibuk memperbaiki dirimu sendiri. Dan Allah mencintai hamba yang sibuk memperbaiki diri.”
Manusia itu penuh kekurangan, tapi banyak yang tertutup dari penglihatannya sendiri.
Begitu seseorang berusaha memperbaiki satu masalah (misalnya sifat sombong), Allah akan membukakan pandangan terhadap kekurangan lain yang sebelumnya tak terlihat (misalnya sifat malas, riya, atau dusta).
Proses ini seperti mengupas lapisan bawang, setiap lapisan yang dibuka menampakkan lapisan lain di dalamnya
Jika waktu kita gunakan untuk mengevaluasi diri kita sendiri, maka kita tidak akan punya waktu untuk mencari cari aib orang lain.
Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah menambahkan: “Hendaklah engkau sibuk memperbaiki dirimu, jangan sibuk membicarakan orang lain. Barang siapa yang selalu membicarakan orang lain, maka ia telah tertipu.”
Tertipu di sini maksudnya adalah ia mengira dirinya sedang “peduli” atau “mengingatkan”, padahal sebenarnya ia sedang membuang waktunya, mengumpulkan dosa, dan lalai dari kewajiban memperbaiki diri sendiri. Orang seperti ini tertipu oleh hawa nafsunya, merasa dirinya lebih baik daripada orang yang dibicarakan, padahal mungkin keadaan dirinya lebih buruk di sisi Allah.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Barang siapa yang mengenali dirinya, maka ia akan sibuk memperbaikinya daripada sibuk mengurusi aib orang lain. Barang siapa yang mengenal Rabb-nya,
niscaya ia akan sibuk beribadah kepada-Nya daripada menuruti hawa nafsunya.”
Dalil dari Al-Qur’an Allah Ta’ala berfirman:
Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Dalil dari Hadits
Rasulullah Saw bersabda:
Berbahagialah orang yang disibukkan oleh aibnya sendiri sehingga tidak sempat memperhatikan aib orang lain.” (HR. Al-Bazzar, hasan)
Dalam hadits lain:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim)

Bagaimana Aplikasinya dalam Kehidupan?
1. Di rumah: Alihkan energi dari mengkritik pasangan atau anak secara terus-menerus menjadi introspeksi
diri. Gunakan waktu bercengkerama untuk saling menasihati dengan lembut.
2. Di lingkungan kerja: Hindari gosip kantor, fokus tingkatkan kinerja pribadi.
3. Di media sosial: Tahan jari dari komentar negatif, gunakan akun untuk berbagi kebaikan.
4. Dalam ibadah: Doakan orang yang berbuat salah dan introspeksi diri.

Hidup ini adalah perjalanan menuju Allah. Kesibukan terbaik adalah memperbaiki diri, bukan mencari aib
orang lain. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 1)

Minggu, 11 Mei 2025

Tinggalkan Teman yang Toxic Demi Kesehatan Mental dan Kehidupan yang Lebih Baik

Pergaulan memainkan peran besar dalam membentuk pola pikir, sikap, dan bahkan keadaan emosional seseorang. Teman bisa menjadi sumber semangat, motivasi, dan kebaikan. Namun sebaliknya, ada pula teman yang justru membawa pengaruh buruk, sering disebut sebagai "teman toxic".

Teman yang toxic adalah mereka yang suka merendahkan, memanipulasi, menyebar aura negatif, atau membuat kita merasa tidak berharga. Jika hubungan semacam ini dibiarkan terus berlanjut, maka akan berdampak serius pada kesehatan mental, seperti stres, kecemasan, kehilangan kepercayaan diri, hingga depresi.

Islam Mendorong Kita untuk Menjauhi Keburukan

Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin sangat memperhatikan kualitas pergaulan. Allah SWT memerintahkan agar kita menjaga lisan, hati, dan perilaku agar senantiasa berada dalam kebaikan. Salah satu ayat yang relevan dalam hal ini adalah:

Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling darinya dan mereka berkata, ‘Bagi kami amal kami dan bagimu amalmu. Kesejahteraan atas kalian, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.’”
(Q.S. Al-Qashash: 55)

Ayat ini menggambarkan sikap orang-orang beriman yang menjauh dari ucapan dan perilaku yang tidak berguna dan memilih untuk tidak bergaul dengan orang-orang jahil, yakni mereka yang tidak membawa manfaat, bahkan justru membawa keburukan dalam kehidupan sosial.

Dampak Positif dari Meninggalkan Teman Toxic

1. Kesehatan Mental Lebih Stabil
   Tanpa tekanan dan beban dari orang yang terus menyebarkan energi negatif, kita bisa lebih tenang dan bahagia.

2. Pertumbuhan Diri Lebih Optimal
   Kita akan lebih fokus untuk berkembang, memperbaiki diri, dan membangun hubungan yang sehat dan mendukung.

3. Hidup Lebih Berkualitas
   Energi kita tidak lagi terkuras untuk menghadapi drama atau konflik yang tidak perlu. Waktu bisa digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat.

Bukan Membenci, Tapi Menjaga Diri

Meninggalkan teman toxic bukan berarti kita membenci atau memutus silaturahmi secara mutlak. Ini adalah bentuk hijrah sosial — berpindah dari lingkungan yang merusak menuju lingkungan yang sehat dan positif. Kita tetap bisa mendoakan mereka dari kejauhan, sembari menjaga diri dari kerusakan mental dan spiritual.

Menjaga kesehatan mental adalah bagian dari menjaga amanah Allah terhadap diri sendiri. Jika pergaulan dengan seseorang justru menjauhkan kita dari kebaikan dan ketenangan, maka sudah seharusnya kita berani mengambil sikap. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-Qashash: 55, jadilah orang yang berpaling dari keburukan, memilih ketenangan, dan meneguhkan diri dalam jalan yang baik.


Rabu, 30 April 2025

Perubahan: Sebuah Keniscayaan dan Jalan Menuju Kebaikan

Perubahan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Ia bukan hanya sesuatu yang mungkin terjadi—tapi pasti terjadi. Bahkan, alam semesta ini sendiri merupakan simbol dari perubahan yang terus-menerus.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."
(QS. Ar-Ra'd: 11)

Ayat ini menegaskan bahwa perubahan adalah tanggung jawab pribadi. Tidak akan terjadi perbaikan tanpa adanya kesadaran dan usaha dari diri sendiri.

1. Menyadari Kesalahan: Titik Awal Perubahan

Perubahan yang sejati dimulai ketika kita menyadari bahwa ada yang salah dalam diri kita. Jika seseorang berbuat kesalahan namun tidak merasakan penyesalan, maka perubahan tidak akan pernah terjadi.

Penyesalan adalah pintu menuju perenungan. Dengan merenung, kita bisa melihat dengan jernih apa yang telah kita lakukan, dan dari sana tumbuh keinginan untuk menjadi lebih baik. Inilah yang disebut sebagai perubahan yang cerdas—perubahan yang didorong oleh kesadaran dan niat menuju kebaikan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

"Penyesalan adalah taubat."
(HR. Ibnu Majah, hasan)

2. Mengetahui Apa yang Harus Diubah

Tidak cukup hanya menyesal, seseorang harus memahami apa yang harus diperbaiki. Ini adalah bagian dari introspeksi diri. Tanpa mengetahui titik kesalahan dan apa yang harus ditinggalkan, perubahan akan sia-sia.

Dengan mengetahui kesalahan secara spesifik, seseorang akan lebih mudah merancang langkah-langkah konkret untuk memperbaiki diri. Di sinilah penyesalan menjadi titik balik yang membawa seseorang ke arah perubahan sejati.

3. Perubahan Harus Dilakukan dengan Sadar

Perubahan yang berkualitas lahir dari kesadaran, bukan paksaan. Kita harus sadar mana yang salah, mana yang harus diperbaiki, dan apa tindakan yang harus diambil. Kesadaran inilah yang akan memperkuat tekad dalam setiap langkah perubahan.

4. Perubahan Memerlukan Kemauan Kuat

Tanpa adanya kemauan, perubahan hanya menjadi angan. Karena itu, kemauan untuk berubah adalah fondasi utama. Bahkan untuk melakukan kebaikan, terkadang seseorang harus “memaksa” dirinya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

"Surga dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai (nafsu), dan neraka dikelilingi oleh hal-hal yang menyenangkan (nafsu)."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Kebaikan seringkali tidak sejalan dengan hawa nafsu. Karena itu, seseorang harus bersungguh-sungguh melawannya. Perubahan ke arah kebaikan memang penuh tantangan, tapi resikonya lebih ringan dibanding perubahan ke arah keburukan, yang justru menyimpan kerusakan dan penyesalan lebih dalam.

5. Jangan Menunda Perubahan

Hati manusia sangat mudah berubah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

"Hati itu berbolak-balik lebih cepat dari panci yang mendidih di atas api."
(HR. Ahmad, shahih)

Karena itu, jika ada keinginan untuk berubah ke arah kebaikan, jangan ditunda. Segeralah. Semakin lama menunda, semakin besar kemungkinan niat itu menghilang.

Perubahan adalah keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Yang bisa kita pilih adalah: berubah ke arah kebaikan atau membiarkan diri hanyut dalam keburukan. Maka marilah kita jadikan penyesalan sebagai awal dari hijrah menuju kebaikan, dengan penuh kesadaran dan kemauan yang kuat, serta tanpa menunda.

Semoga Allah senantiasa membimbing hati kita dan menetapkannya di atas jalan yang lurus.


Minggu, 27 April 2025

Sifat Sombong dalam Pandangan Al-Qur’an dan Hadis: Bahaya yang Menghancurkan

Sombong adalah salah satu sifat tercela yang sangat dibenci dalam Islam. Ia adalah penyakit hati yang bisa menyerang siapa saja—termasuk orang yang terlihat paling taat, paling berilmu, atau paling berjasa sekalipun. Dalam Al-Qur’an dan hadis, kesombongan disebut sebagai penyebab kehancuran individu maupun suatu kaum.

Kesombongan dalam Al-Qur’an: Pelajaran dari Para Pendahulu

1. Kesombongan Iblis
Kisah iblis adalah contoh pertama tentang kesombongan yang dicatat dalam Al-Qur’an. Ketika Allah memerintahkan semua makhluk untuk sujud kepada Nabi Adam, iblis menolak karena merasa lebih baik.

"Ia (Iblis) berkata: 'Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.'" (QS. Al-A'raf: 12)

Kesombongan iblis muncul dari rasa senioritas dan merasa lebih layak, lebih mulia. Ini menjadi pelajaran bahwa kesombongan bisa muncul meski seseorang rajin beribadah, jika hati tidak dijaga.

2. Kesombongan Para Penguasa: Fir’aun dan Namrud
Fir’aun merasa dirinya sebagai tuhan tertinggi dan menolak kebenaran yang dibawa oleh Nabi Musa.

"Maka Fir’aun berkata: 'Akulah tuhanmu yang paling tinggi.'" (QS. An-Nazi'at: 24)

Kesombongan yang dibalut kekuasaan membuat seseorang tidak segan menindas, menolak kebenaran, dan berbuat zhalim kepada orang lain.

3. Kesombongan Kaum Terdahulu: Bani Israil
Kaum Bani Israil menganggap diri mereka sebagai bangsa pilihan Tuhan dan merendahkan nabi-nabi yang tidak berasal dari kalangan mereka.

"Dan mereka berkata: 'Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.' Katakanlah: 'Mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?'" (QS. Al-Ma'idah: 18)

Sikap ini membuat mereka menutup diri dari kebenaran dan bahkan mendustakan para nabi.

Kesombongan dalam Kehidupan Modern: Ketika Senioritas Membutakan Hati

Dalam lingkungan organisasi, lembaga, atau komunitas, kesombongan bisa muncul dalam bentuk yang lebih halus tapi merusak. Seorang senior yang merasa paling berjasa, paling lama berkontribusi, atau paling paham aturan bisa terjerumus ke dalam sifat sombong. Ia mungkin meremehkan pendapat junior, enggan menerima masukan, atau bahkan bersikap otoriter.

Padahal, dalam Islam, keutamaan bukan berdasarkan lamanya bergabung atau banyaknya posisi, melainkan ketakwaan dan kerendahan hati.

"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13)

Sombong karena posisi atau pengalaman justru menghambat kemajuan organisasi. Orang sombong sulit diajak musyawarah, tidak menerima kritik, dan sering kali menekan bawahannya.

Nabi Muhammad bersabda:

"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi." (HR. Muslim, no. 91)

Ciri dan Dampak Sifat Sombong

Kesombongan bisa dikenali lewat sifat-sifat berikut:
- Tinggi hati dan angkuh
- Meremehkan orang lain
- Sulit menerima nasihat
- Zhalim dan tidak adil
- Tidak memiliki rasa kasih sayang

Orang yang sombong bukan hanya merugikan dirinya sendiri, tapi juga menzalimi orang lain. Doa orang yang dizalimi bisa menjadi sebab kebinasaan bagi pelaku kesombongan.

"Takutlah kalian terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah." (HR. Bukhari no. 2448; Muslim no. 19)

Sombong adalah akar dari banyak kerusakan. Dari iblis hingga penguasa zhalim, dari kaum terdahulu hingga para senior yang lalai, semua menunjukkan bahwa kesombongan menutup pintu hidayah. Islam mengajarkan kita untuk merendahkan hati, membuka telinga terhadap nasihat, dan menghargai sesama, apapun latar belakangnya.

"Barang siapa merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya." (HR. Muslim no. 2588)

Mari jaga hati dari kesombongan, agar kita tidak termasuk golongan yang tertolak di sisi Allah.